Beautiful young Asian woman college student with friends at outdoors. College student working on the college campus

Apakah Kita Benar-Benar Menghargai Perbedaan, atau Hanya Menerima Orang yang Sependapat dengan Kita?

Diposting pada

Pernahkah kita merasa nyaman berteman dengan seseorang karena memiliki pemikiran yang sama, tetapi tiba-tiba menjaga jarak ketika orang tersebut menyampaikan pendapat yang berbeda? Atau pernahkah kita mengatakan bahwa setiap orang berhak berpendapat, tetapi merasa tersinggung ketika pendapat kita sendiri dikritik?

Situasi seperti ini mungkin terlihat sederhana. Kita bisa menganggapnya sebagai persoalan pertemanan, perbedaan selera, atau sekadar ketidakcocokan pemikiran. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, ada pertanyaan yang patut direnungkan: apakah kita benar-benar menghargai perbedaan, atau sebenarnya hanya menerima orang-orang yang memiliki pandangan serupa dengan kita?

Pertanyaan tersebut penting karena menghargai perbedaan sering kali lebih mudah diucapkan daripada diterapkan. Banyak orang menyatakan bahwa toleransi merupakan nilai yang harus dijaga. Kita juga mempelajarinya melalui pendidikan Pancasila, kehidupan bermasyarakat, dan berbagai kegiatan di lingkungan sekolah. Akan tetapi, sikap seseorang ketika menghadapi pendapat yang bertentangan dengan keyakinannya dapat memperlihatkan apakah nilai tersebut benar-benar dipahami.

Menghargai perbedaan bukan hanya tentang bersikap baik kepada orang lain ketika keadaan berjalan sesuai keinginan kita. Sikap tersebut justru diuji ketika kita berhadapan dengan seseorang yang tidak menyetujui gagasan kita, memiliki pilihan berbeda, atau melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang tidak pernah kita pertimbangkan sebelumnya.

Menghargai Perbedaan Tidak Sama dengan Menyetujui Semua Pendapat

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul dalam pembicaraan mengenai toleransi adalah anggapan bahwa menghargai orang lain berarti harus menyetujui pendapat mereka. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.

Seseorang dapat menghormati orang lain tanpa harus mengubah keyakinannya sendiri. Kita dapat mendengarkan pendapat teman, mempertimbangkan alasan yang disampaikan, kemudian tetap mengambil kesimpulan yang berbeda. Selama perbedaan tersebut disikapi dengan cara yang wajar dan tidak merendahkan martabat orang lain, perbedaan pendapat tidak harus berakhir menjadi pertengkaran.

Bayangkan sebuah diskusi di kelas ketika siswa diminta menyampaikan pendapat tentang aturan penggunaan telepon genggam selama pembelajaran. Sebagian siswa mungkin berpendapat bahwa telepon genggam sebaiknya dilarang agar konsentrasi tetap terjaga. Siswa lainnya mungkin menilai bahwa perangkat tersebut tetap diperlukan untuk mencari informasi dan mendukung kegiatan belajar.

Kedua kelompok memiliki alasan masing-masing. Persoalan muncul ketika salah satu kelompok mulai menyebut kelompok lain tidak disiplin, tidak memahami teknologi, atau tidak mampu berpikir dengan baik hanya karena memiliki pendapat berbeda.

Pada titik tersebut, diskusi tidak lagi berfokus pada kualitas argumen. Perhatian beralih kepada penilaian terhadap orang yang menyampaikan argumen tersebut.

Padahal, pendapat seharusnya dapat diuji berdasarkan alasan, bukti, dan dampaknya. Seseorang boleh mengkritik sebuah gagasan, tetapi kritik tidak harus berubah menjadi serangan terhadap pribadi yang menyampaikannya.

Dengan demikian, menghargai perbedaan bukan berarti menghilangkan sikap kritis. Justru, kita perlu membedakan antara menolak suatu gagasan dan merendahkan orang yang memiliki gagasan tersebut.

Ketika Kita Hanya Nyaman dengan Orang yang Sependapat

Manusia memiliki kecenderungan untuk merasa nyaman dengan orang yang dianggap memiliki kesamaan. Kesamaan dalam pemikiran, pengalaman, kebiasaan, maupun pilihan dapat membuat hubungan terasa lebih mudah dijalani.

Kecenderungan tersebut tidak selalu buruk. Kesamaan dapat membantu membangun pertemanan dan kerja sama. Namun, masalah muncul ketika kenyamanan itu berubah menjadi ukuran untuk menentukan siapa yang layak didengarkan, dihormati, atau diterima dalam lingkungan sosial.

Misalnya, seseorang memiliki kelompok pertemanan yang selalu menyetujui pendapatnya. Setiap kali ia mengemukakan suatu gagasan, teman-temannya memberikan dukungan. Ia kemudian terbiasa menganggap bahwa pendapatnya benar karena banyak orang di sekitarnya menyetujui.

Ketika seorang anggota baru menyampaikan pandangan berbeda, suasana kelompok mulai berubah. Anggota tersebut dianggap sulit diajak bekerja sama, terlalu banyak membantah, atau tidak cocok dengan kelompok.

Padahal, orang tersebut mungkin hanya mencoba menawarkan cara berpikir lain yang belum pernah dipertimbangkan sebelumnya.

Contoh ini menunjukkan bahwa penerimaan sosial terkadang memiliki syarat yang tidak disadari: seseorang diterima selama tidak terlalu berbeda dari kelompoknya.

Keadaan tersebut dapat membuat orang memilih diam meskipun memiliki pandangan yang sebenarnya penting. Mereka khawatir kehilangan teman, dianggap sebagai pembuat masalah, atau dijauhkan dari lingkungan yang selama ini memberikan rasa aman.

Akibatnya, kesepakatan yang terlihat di permukaan belum tentu mencerminkan persetujuan yang sebenarnya. Bisa jadi, sebagian orang hanya mengikuti pendapat mayoritas karena tidak ingin menghadapi risiko sosial.

Kita perlu berhati-hati ketika menganggap lingkungan yang selalu sepakat sebagai lingkungan yang paling harmonis. Keharmonisan yang sehat bukan berarti tidak pernah terjadi perbedaan. Keharmonisan juga membutuhkan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pemikiran tanpa harus takut direndahkan.

Mengapa Perbedaan Pendapat Sering Terasa seperti Serangan Pribadi?

Perbedaan pendapat terkadang terasa lebih menyakitkan daripada yang seharusnya karena manusia tidak selalu memisahkan gagasan yang dimilikinya dari identitas dirinya.

Ketika seseorang mengkritik pendapat kita, kita mungkin tidak hanya mendengar bahwa sebuah gagasan dianggap kurang tepat. Kita juga bisa merasa bahwa kemampuan, pengalaman, atau harga diri kita sedang dipertanyakan.

Sebagai contoh, seorang siswa mengusulkan cara tertentu untuk menyelesaikan tugas kelompok. Anggota lain memberikan kritik karena metode tersebut dinilai membutuhkan terlalu banyak waktu. Kritik itu sebenarnya ditujukan kepada metode yang digunakan, bukan kepada kemampuan siswa yang mengusulkannya.

Namun, apabila kritik tersebut diterima sebagai penghinaan, siswa yang mengusulkan metode tadi mungkin menjadi defensif. Ia berusaha mempertahankan pendapatnya bukan lagi karena memiliki alasan yang kuat, melainkan karena merasa harus membuktikan bahwa dirinya tidak salah.

Situasi serupa dapat terjadi dalam keluarga, organisasi, tempat kerja, dan percakapan di media sosial.

Kita sering ingin pendapat kita dihargai, tetapi terkadang lupa bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan yang sama. Kita ingin didengarkan sampai selesai, tetapi mungkin memotong pembicaraan ketika mendengar sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinan kita.

Di sinilah pentingnya kemampuan mengendalikan reaksi. Tidak semua kritik merupakan penghinaan, sebagaimana tidak semua perbedaan merupakan bentuk permusuhan.

Sebelum menanggapi pendapat yang bertentangan, kita dapat bertanya kepada diri sendiri: apakah saya merasa terganggu karena argumen orang tersebut memang memiliki kelemahan, atau karena saya tidak terbiasa mendengar seseorang menentang pandangan saya?

Pertanyaan sederhana itu dapat membantu kita membedakan persoalan substansi dari reaksi emosional.

Media Sosial dan Kebiasaan Mengelompokkan Orang Berdasarkan Pendapat

Perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah bertukar informasi dan menyampaikan pandangan. Seseorang dapat berdiskusi dengan orang dari berbagai daerah tanpa harus bertemu secara langsung. Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi tempat ketika perbedaan pendapat berkembang menjadi pertentangan yang sulit dikendalikan.

Perdebatan di ruang digital sering berlangsung dengan cepat. Sebuah komentar dapat dibalas oleh puluhan orang, dipotong dari konteks awalnya, atau disebarkan kepada pengguna lain yang memiliki pandangan serupa.

Dalam keadaan seperti itu, seseorang dapat lebih sibuk mempertahankan kelompoknya daripada memahami persoalan yang sedang dibicarakan.

Misalnya, ketika seseorang mengkritik suatu kebijakan, sebagian pengguna mungkin langsung menganggapnya sebagai pihak yang membenci kelompok tertentu. Sebaliknya, orang yang membela kebijakan tersebut dapat dicap tidak memiliki kepedulian terhadap masalah yang terjadi.

Padahal, kritik terhadap suatu kebijakan tidak otomatis berarti membenci semua pihak yang mendukungnya. Demikian pula, mendukung suatu kebijakan tidak selalu berarti menolak setiap bentuk kritik.

Seseorang dapat memiliki pendapat yang berbeda karena mempertimbangkan informasi, pengalaman, atau prioritas yang tidak sama. Oleh karena itu, menilai seseorang hanya berdasarkan satu pernyataan dapat menghasilkan kesimpulan yang terlalu sederhana.

UNESCO menekankan pentingnya dialog antarbudaya untuk membangun kepercayaan, mengelola keberagaman, dan mencegah polarisasi. Dialog membantu orang mendengarkan pandangan yang berbeda, menyelesaikan ketidaksepakatan secara konstruktif, serta mencari solusi bersama.

Prinsip ini relevan dalam kehidupan digital. Kita tidak harus menyetujui semua komentar yang dibaca, tetapi perlu membiasakan diri memeriksa konteks, menilai alasan, dan menghindari penghinaan terhadap orang yang berbeda pandangan.

Kemampuan tersebut juga menjadi bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara. Kebebasan menyampaikan pendapat perlu berjalan bersama kesadaran bahwa perkataan dan tindakan kita dapat memengaruhi orang lain.

Apakah Sikap Toleran Kita Hanya Berlaku untuk Kelompok Sendiri?

Ada pertanyaan yang lebih sulit untuk dijawab dengan jujur: apakah kita tetap menghargai seseorang ketika perbedaan tersebut menyangkut hal yang benar-benar penting bagi kita?

Seseorang mungkin mudah menerima perbedaan selera musik, makanan, atau pilihan hiburan. Namun, ia dapat merasa jauh lebih sulit ketika menghadapi perbedaan pandangan tentang aturan sekolah, kebijakan publik, cara mendidik anak, atau persoalan sosial yang memiliki konsekuensi nyata.

Hal ini menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya persoalan mengetahui bahwa manusia berbeda. Toleransi juga berkaitan dengan kemampuan mengelola perasaan dan tindakan ketika perbedaan tersebut menantang keyakinan kita sendiri.

Psikolog Gordon W. Allport membahas prasangka dalam bukunya The Nature of Prejudice yang diterbitkan pada 1954. Pemikirannya menjadi dasar bagi teori kontak antarkelompok, yaitu gagasan bahwa interaksi antara kelompok yang berbeda dapat membantu mengurangi prasangka dalam kondisi tertentu.

Penelitian berikutnya mengembangkan pemahaman tersebut. Interaksi yang bermakna, kedudukan yang setara, tujuan bersama, dan dukungan lingkungan merupakan beberapa kondisi yang dapat membantu membangun hubungan antarkelompok yang lebih positif.

Artinya, mengenal orang yang berbeda saja tidak selalu cukup. Kualitas interaksi juga penting.

Kita mungkin pernah bekerja dalam satu kelompok dengan seseorang yang awalnya kita anggap sulit dipahami. Setelah bekerja bersama, berbagi tanggung jawab, dan menghadapi persoalan yang sama, kita mulai melihat sisi lain dari dirinya. Kita menyadari bahwa perbedaan pendapat tidak menghapus kemampuan untuk saling membantu.

Pengalaman seperti ini dapat memperluas cara kita memandang orang lain. Seseorang tidak lagi hanya dipahami melalui label kelompoknya, tetapi melalui tindakan, alasan, dan pengalaman pribadinya.

Karena itu, menghargai perbedaan membutuhkan kemauan untuk mengenal orang lain secara lebih utuh. Kita tidak perlu menganggap semua orang memiliki pemikiran yang sama. Kita hanya perlu menghindari kesimpulan bahwa seseorang pasti buruk hanya karena ia tidak sama dengan kita.

Hubungannya dengan Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Nilai menghargai perbedaan memiliki hubungan erat dengan Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman kehidupan bersama di Indonesia.

Indonesia terdiri atas masyarakat dengan beragam latar belakang, bahasa, budaya, tradisi, dan pandangan. Keberagaman tersebut merupakan kenyataan sosial yang perlu dikelola agar perbedaan tidak berubah menjadi alasan untuk merendahkan atau mengucilkan orang lain.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan bahwa setiap manusia perlu diperlakukan secara manusiawi. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini dapat diwujudkan dengan tidak menghina teman karena pendapatnya berbeda, tidak mempermalukan seseorang ketika menyampaikan kritik, serta tidak menggunakan kelemahan orang lain untuk memenangkan perdebatan.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, juga tidak seharusnya dipahami sebagai tuntutan agar semua orang selalu memiliki pendapat yang sama. Persatuan justru perlu memberi ruang bagi keberagaman sambil mempertahankan komitmen untuk hidup bersama sebagai satu bangsa.

Persatuan yang hanya bertahan ketika semua orang sepakat akan mudah terganggu saat muncul perbedaan. Sebaliknya, persatuan yang dibangun melalui rasa saling menghormati memiliki peluang lebih baik untuk menghadapi ketidaksepakatan secara dewasa.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, memberikan pelajaran penting tentang cara mengambil keputusan bersama.

Musyawarah bukan sekadar kegiatan berkumpul untuk menentukan pilihan. Musyawarah juga menuntut kesediaan mendengarkan pendapat, mempertimbangkan kepentingan bersama, dan mencari penyelesaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam musyawarah kelas, misalnya, ketua kelas tidak seharusnya hanya memberikan kesempatan berbicara kepada teman-teman yang mendukung pilihannya. Pendapat yang berbeda tetap perlu didengar sebelum keputusan ditetapkan.

Hal yang sama berlaku dalam organisasi maupun lingkungan masyarakat. Keputusan bersama tidak harus memenuhi seluruh keinginan setiap orang, tetapi prosesnya perlu memberikan kesempatan yang wajar bagi pihak-pihak terkait untuk menyampaikan pandangan.

Dengan demikian, pengamalan Pancasila tidak cukup ditunjukkan melalui hafalan bunyi sila. Nilai-nilainya perlu terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain ketika terjadi perbedaan kepentingan dan pendapat.

Belajar Tidak Setuju Tanpa Merendahkan Orang Lain

Menghargai perbedaan bukan kemampuan yang muncul secara otomatis. Sikap tersebut perlu dilatih melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Pertama, dengarkan pendapat sampai selesai. Jangan langsung menyela hanya karena kita menemukan bagian yang tidak disetujui. Mendengarkan secara utuh membantu kita memahami alasan seseorang sebelum memberikan tanggapan.

Kedua, bedakan antara orang dan gagasannya. Jika suatu pendapat memiliki kelemahan, jelaskan kelemahannya dengan alasan yang jelas. Hindari menyerang karakter, latar belakang, atau kemampuan seseorang hanya untuk membuat argumen kita terlihat lebih unggul.

Ketiga, berikan kesempatan untuk mengoreksi pemikiran sendiri. Tidak ada manusia yang selalu benar. Ketika menemukan informasi baru atau argumen yang lebih kuat, kita perlu bersedia mengevaluasi pandangan sebelumnya.

Keempat, jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk mengucilkan seseorang. Dalam kelompok belajar atau organisasi, seseorang tetap dapat bekerja sama meskipun memiliki pilihan dan pendapat yang berbeda dalam persoalan tertentu.

Kelima, gunakan media sosial secara bertanggung jawab. Sebelum membagikan komentar atau menanggapi perdebatan, periksa apakah informasi yang digunakan dapat dipercaya. Hindari menyebarkan tuduhan yang belum terbukti dan jangan menganggap penghinaan sebagai cara yang wajar untuk mempertahankan pendapat.

Keenam, pahami batas toleransi. Menghargai perbedaan bukan berarti membenarkan kekerasan, perundungan, diskriminasi, atau tindakan yang merugikan hak orang lain. Kita tetap dapat menolak tindakan yang salah sambil memperlakukan orang yang bersangkutan secara manusiawi dan mengikuti aturan yang berlaku.

Ketujuh, berani mengevaluasi diri. Ketika merasa kesal karena seseorang tidak menyetujui pendapat kita, cobalah menunda reaksi dan memeriksa alasan di balik perasaan tersebut. Kebiasaan ini dapat membantu kita merespons dengan lebih tenang dan adil.

Langkah-langkah tersebut mungkin tampak kecil. Namun, sikap menghargai perbedaan justru terbentuk melalui tindakan sehari-hari, bukan hanya melalui pernyataan besar tentang toleransi.

Lingkungan yang Dewasa Bukan Lingkungan yang Selalu Sepakat

Ada anggapan bahwa kelompok yang baik adalah kelompok yang jarang berdebat. Padahal, tidak adanya perdebatan belum tentu menunjukkan bahwa setiap anggota merasa nyaman atau memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara.

Sebagian orang mungkin memilih diam karena takut ditertawakan. Sebagian lainnya mungkin merasa pendapatnya tidak akan dipertimbangkan. Ada pula orang yang mengikuti keputusan kelompok meskipun memiliki keberatan, karena khawatir hubungan pertemanan menjadi terganggu.

Jika keadaan seperti ini berlangsung terus-menerus, kelompok dapat terlihat kompak tanpa benar-benar memberikan ruang bagi perbedaan.

Lingkungan yang dewasa seharusnya mampu membedakan konflik yang merusak dari perbedaan pendapat yang dapat membantu memperbaiki keputusan.

Ketika anggota kelompok memberikan kritik dengan alasan yang jelas, kritik tersebut dapat menjadi kesempatan untuk menemukan kelemahan rencana sebelum masalah muncul. Ketika siswa mempertanyakan suatu aturan secara sopan, pertanyaan itu dapat membantu guru menjelaskan tujuan aturan tersebut atau mengevaluasi penerapannya.

Tentu saja, setiap perbedaan perlu disampaikan dengan cara yang bertanggung jawab. Kebebasan berbicara bukan alasan untuk mengabaikan etika, menyebarkan kebohongan, atau mengganggu hak orang lain.

Namun, selama perbedaan disampaikan secara wajar, lingkungan sebaiknya tidak buru-buru menganggapnya sebagai ancaman terhadap persatuan.

Persatuan yang sehat bukanlah keadaan ketika semua orang harus berpikir seragam. Persatuan adalah kesediaan untuk tetap bekerja sama, menjaga tanggung jawab bersama, dan mencari penyelesaian meskipun tidak semua orang memulai dari pandangan yang sama.

Menghargai Perbedaan Dimulai dari Kejujuran terhadap Diri Sendiri

Pada akhirnya, pertanyaan tentang toleransi tidak hanya ditujukan kepada orang yang dianggap tidak menghargai perbedaan. Pertanyaan tersebut juga perlu diarahkan kepada diri kita sendiri.

Kita mungkin pernah meminta orang lain menghormati pendapat kita, tetapi tidak memberikan kesempatan yang sama ketika mereka berbicara. Kita mungkin menganggap diri sendiri terbuka, tetapi hanya merasa nyaman ketika orang lain mengonfirmasi keyakinan yang sudah kita miliki.

Menyadari kemungkinan tersebut bukan berarti kita harus menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya, kesadaran merupakan langkah awal untuk memperbaiki cara berinteraksi.

Kita dapat mulai dengan memperhatikan bagaimana reaksi kita ketika dikritik, bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda pilihan, dan apakah kita masih bersedia mendengarkan seseorang setelah mengetahui bahwa pandangannya tidak sama dengan pandangan kita.

Kita juga perlu mengingat bahwa menghargai seseorang tidak berarti harus menyukai seluruh pemikirannya. Tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan kesepakatan. Ada kalanya dua orang tetap memiliki pandangan berbeda setelah berdiskusi, tetapi mereka masih dapat menjaga hubungan dan bekerja sama.

Kemampuan menerima kenyataan tersebut merupakan bagian penting dari kedewasaan dalam kehidupan sosial dan demokrasi.

Masyarakat yang beragam membutuhkan lebih dari sekadar slogan persatuan. Masyarakat membutuhkan kebiasaan mendengarkan, keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, dan kesediaan memperlakukan orang lain secara adil meskipun terdapat ketidaksepakatan.

Penutup: Apakah Kita Menghargai Perbedaan atau Hanya Menyukai Kesamaan?

Menghargai perbedaan merupakan nilai yang mudah disetujui ketika dibicarakan secara umum. Tantangannya muncul ketika perbedaan itu hadir di hadapan kita, menyentuh keyakinan yang kita pegang, atau membuat kita harus mempertimbangkan kembali pandangan sendiri.

Pada saat itulah sikap kita benar-benar diuji.

Kita tidak harus menyetujui setiap pendapat. Kita juga tidak perlu mengorbankan prinsip yang kita yakini hanya agar diterima oleh orang lain. Namun, kita tetap memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan secara adil, menyampaikan kritik dengan alasan yang jelas, dan tidak merendahkan martabat seseorang hanya karena ia berpikir berbeda.

Nilai Pancasila, khususnya kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah, dapat menjadi pedoman untuk membangun sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Cobalah merenungkan satu pertanyaan sederhana: jika besok seseorang yang selama ini kita hormati menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan kita, apakah kita masih bersedia mendengarkannya dengan sungguh-sungguh?

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin dapat memberi gambaran tentang sejauh mana kita telah mempraktikkan toleransi.

Sebab, menghargai perbedaan bukan hanya tentang menerima orang yang membuat kita merasa nyaman. Menghargai perbedaan juga berarti memberikan ruang yang adil bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa harus kehilangan hak untuk didengar dan dihormati.

“Kita tidak harus selalu sepakat untuk hidup berdampingan. Namun, kita perlu belajar tetap saling menghormati ketika kesepakatan tidak tercapai”

Referensi

Allport, G. W. (1954). The Nature of Prejudice. Addison-Wesley.

Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2006). A meta-analytic test of intergroup contact theory. Journal of Personality and Social Psychology, 90(5), 751–783. https://doi.org/10.1037/0022-3514.90.5.751

UNESCO. Intercultural Dialogue: Towards More Cohesive and Peaceful Societies. https://www.unesco.org/en/interculturaldialogue

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 28E, Pasal 28J, dan Pasal 28I ayat (2), terkait kebebasan berpendapat, pembatasan hak berdasarkan hukum, dan perlindungan dari diskriminasi.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *